Propolis untuk Penderita Tuberkulosis

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis – Tuberkulosis (TB) atau yang juga dikenal dengan penyakit TBC adalah penyakit menular yang biasanya menyerang paru-paru. Penyebab tuberkulosis adalah bakteri Mycobacterium tuberculosis. TBC adalah penyakit multisistemik dengan bentuk klinis yang bermacam-macam.  TBC adalah penyebab paling umum kematian di seluruh dunia terkait dengan penyakit menular.

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis

Kasus TBC menjadi semakin meningkat di seluruh belahan dunia. Penyakit TBC adalah penyakit yang kerap ditemui di banyak negara, terutama di negara berkembang. Selain itu, prevalensi penyakit TBC resistan terhadap obat juga meningkat di seluruh dunia. Ketidakmempanan obat antibiotik terhadap penyakit TBC diakibatkan adanya koinfeksi dengan virus human immunodeficiency (HIV) yang kini semakin menyebar luas. Maka, rejimen deteksi dini HIV dan TBC saling silang, yaitu pasien yang terkena penyakit TBC wajib dicek HIV, dan pasien yang terkena HIV wajib untuk dicek TBC.

Tanda dan gejala TBC adalah:

Perlu ditekankan bahwa tanda dan gejala TB paru pada anak dan dewasa itu sangat berbeda. Pada anak, gejala TB paru tidak perlu ada batuk, namun apabila serumah atau ada riwayat terpapar orang yang sudah lebih dulu mengalami gejala TB paru, dan anak tersebut mengalami gejala TB paru berupa gangguan pertumbuhan, penurunan nafsu makan, demam nglemeng selama 2 minggu, maka sebaiknya dilakukan uji tes mantoux di Puskesmas terdekat.

Sedangkan pada orang dewasa, gambaran klinis klasik terkait dengan gejala TB paru aktif adalah sebagai berikut:

  • Batuk.
  • Berat badan/ anoreksia.
  • Demam.
  • Keringat malam.
  • Hemoptisis/ batuk darah.
  • Nyeri dada (juga dapat hasil dari perikarditis akut tuberkulosis).
  • Kelelahan.

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis – Penyakit TBC adalah penyakit yang harus diwaspadai. Selain di paru-paru, penyakit TBC bisa menjalar ke organ lain seperti selaput otak yang disebut dengan meningitis TB, ke tulang yang disebut dengan Penyakit Pott, ke organ saluran kemih, ke sendi, dan sebagainya. Hal ini bergantung pada daya tahan dan kecepatan penegakan diagnosis antar pasien.

Gejala meningitis TB mungkin termasuk yang berikut:

  • Sakit kepala intermiten atau terus-menerus selama 2-3 minggu.
  • Perubahan status mental ringan yang dapat berlanjut ke koma selama periode hari sampai hitungan minggu.
  • Demam yang tidak terlalu tinggi.

Gejala TB tulang, yang disebut dengan penyakit Pott:

  • Nyeri punggung atau kekakuan punggung.
  • kelumpuhan anggota gerak bawah bawah. Setengah dari pasien dengan penyakit Pott tidak terdiagnosis
  • Arthritis tuberkulosis, biasanya hanya melibatkan 1 sendi (paling sering pinggul atau lutut, diikuti oleh pergelangan kaki, siku, pergelangan tangan, dan bahu)

Gejala TB genitourinari mungkin termasuk yang berikut:

  • Nyeri pinggang.
  • Disuria.
  • Sering buang air kecil.
  • Pada pria, massa skrotum menyakitkan, prostatitis, orchitis, epididimitis atau.
  • Pada wanita, gejala seperti penyakit radang panggul.

Gejala TB gastrointestinal yang merujuk ke situs yang terinfeksi dan mungkin termasuk yang berikut:

  • Nonhealing bisul pada mulut atau anus.
  • Kesulitan menelan (dengan penyakit esofagus).
  • Nyeri perut meniru penyakit ulkus peptikum (dengan infeksi lambung atau duodenum).
  • Malabsorpsi (dengan infeksi usus halus).
  • Nyeri, diare, atau hematochezia (dengan infeksi usus besar).

Jika memang ditemukan gejala-gejala tersebut, segera periksakan diri ke dokter. Nantinya, dokter akan memeriksa melalui serangkaian anamnesis (wawancara) maupun pemeriksaan fisik. Temuan pemeriksaan fisik yang terkait dengan TB adalah tergantung pada organ yang terlibat. Pasien dengan TB paru mungkin memiliki tanda sebagai berikut:

  • Napas tidak normal terdengar, terutama lobus atas atau daerah yang terlibat.
  • Rales atau bronkial napas tanda-tanda, mengindikasikan konsolidasi paru.

Tanda-tanda TB berbeda sesuai dengan jaringan yang terlibat dan mungkin termasuk yang berikut:

  • Penurunan kesadaran hingga koma.
  • Defisit neurologis.
  • Chorioretinitis (radang pada retina mata).
  • Limfadenopati.
  • Lesi kulit.

Baca Juga : Manfaat Propolis untuk Perawatan Kulit”

Tidak adanya temuan fisik yang signifikan tidak serta merta menyingkirkan adanya suatu TB aktif. Semakin baik imunitas atau daya kekebalan tubuh, justru gejala dan tanda cenderung semakin terlihat. Namun, semakin buruk atau lemahnya kekebalan tubuh, justru gejala dan tanda bisa tidak muncul. Hal ini justru yang membahayakan, karena seringkali TBC adalah penyakit yang baru menunjukkan gejala ketika sudah muncul dalam derajat yang lebih berat. Pasien yang cenderung memiliki kekebalan tubuh lemah adalah pasien HIV, pasien yang sedang menjalani kemoterapi, dan pasien kencing manis.

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis

Penyebab dan Faktor Risiko Tuberkulosis

Penyebab Tuberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis. Basil tersebut menyebar di udara melalui semburan titik-titik air liur dari batuk pengidap TB aktif.

Terdapat sejumlah orang yang memiliki risiko penularan TB yang lebih tinggi. Kelompok-kelompok tersebut meliputi:

  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pengidap HIV/AIDS, diabetes, atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Orang yang mengalami malnutrisi atau kekurangan gizi.
  • Perokok.
  • Pecandu narkoba.
  • Orang yang sering berhubungan dengan pengidap TB aktif, misalnya petugas medis atau keluarga pengidap.

Cara Mencegah Penyakit Tuberkulosis

Langkah utama untuk mencegah tuberkulosis adalah dengan menerima imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia 2 bulan.

Anda juga bisa mencegah TB dengan senantiasa mengenakan masker saat berada di tempat ramai, jika berinteraksi dengan pengidap TB, serta mencuci tangan secara teratur (khususnya pekerja medis).

Pengidap TB dapat menularkan penyakit ini jika belum menjalani pengobatan dalam jangka waktu yang ditentukan oleh dokter. Apabila Anda mengidap TB, langkah-langkah berikut akan sangat berguna untuk mencegah penyebarannya pada keluarga dan orang-orang di sekitar.

  • Tutupi mulut Anda saat bersin, batuk, dan tertawa. Anda juga bisa mengenakan masker. Apabila Anda menggunakan tisu, buanglah segera setelah digunakan.
  • Tidak membuang dahak atau meludah sembarangan.
  • Pastikan rumah Anda memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya sering membuka pintu dan jendela agar udara segar serta sinar matahari dapat masuk.
  • Tetaplah di rumah dan jangan tidur sekamar dengan orang lain sampai setidaknya beberapa minggu setelah menjalani pengobatan.

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis – Selain pola hidup yang sehat, Propolis dapat menjadi salah satu herbal alternatif untuk mencegah penyakit lemah jantung. Propolis bersifat desinfektan (anti bakteri) yang membunuh semua kuman yang masuk ke sarang lebah. Lebah melekatkan sarangnya dengan Propolis untuk melindungi semua yang ada didalam sarang tersebut seperti ratu lebah, telur, bayi lebah dan madu dari serbuan kuman, virus atau bakteri

 

Propolis untuk Penderita Tuberkulosis

 

Bioflavonoid yang terkandung dalam Propolis dapat mendegradasi radikal bebas yang disebabkan polusi, bahan pengawet, dan bahan kimia lain yang masuk kedalam tubuh. Kemampuan kerja bioflavonoid ini setara dengan kemampuan 500 buah jeruk

Karena manfaat propolis dapat mengobati segala penyakit, sebagai antibiotik alami tanpa efek samping, Meningkatkan imunitas tubuh, mengobati dan Mencegah penyakit TBC, Menyembuhkan penyakit dari virus, bakteri, jamur, efektif untuk infeksi, dan mendegradasi radikal bebas dengan Vitamin yang setara 500 jeruk / tetes sehingga penderita penyakit TBC dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi propolis secara rutin.

 

 

Sumber :

  • https://doktersehat.com/tuberkulosis/
  • https://www.alodokter.com/tuberkulosis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *